Kamis, 19 Desember 2024

Melon=Menipu Lewat Laporan Nasional'?!"

 


Melon=Menipu Lewat Laporan Nasional'?!"

JH: "Jadi begini, bapak-ibu sekalian. Saya baru dapat berita dari LP.KPK. Katanya, saya dapat anggaran Rp 164 juta buat tanam melon. Tapi, kok saya baru dengar ini?!"

JI: "Melon? Pak, saya biasa bikin kegiatan di desa. Tapi sebiji melon pun nggak pernah saya lihat di sini. Apalagi Rp 164 juta. Melonnya besar sekali, ya?"

JK: "Eh, ini serius? Jadi desa kita dapat proyek melon? Wah, saya kayaknya yang terakhir tahu. Pasti ini melon spesial, ya? Yang tumbuhnya di awan-awan?"

JH: "Hahaha, iya, ini pasti melon ajaib! Bibitnya ditanam di langit, jadi masyarakat desa nggak bisa lihat. Yang bisa lihat cuma LP.KPK. Hebat, ya?!"

AO: "Tunggu-tunggu. Pak, 164 juta itu buat melon, tapi mana lahannya? Di desa kita ini cuma ada kebun ubi sama jagung. Masa melon ditanam di kebun ubi? Bibitnya bisa stres nanti!"

JH: "Atau mungkin kita salah paham. Melon itu bukan tanaman, tapi kode rahasia? Mungkin maksudnya 'Melon' itu singkatan. Misalnya: 'Menipu Lewat Laporan Nasional'?!"

JU: "Wah, Bu, itu cocok banget singkatannya! Karena sampai sekarang, saya nggak tahu siapa yang bikin laporan itu. Padahal kalau saya tahu, saya mau tanya: 'Pak, Bu, melonnya di mana? Kasih saya sepotong, dong!'”

TK: "Tunggu dulu, Pak. Kalau ini benar proyek melon, kita seharusnya dapat panennya tahun lalu, kan? Tapi kok sekarang malah jadi panen berita hoaks?"

AS: "Mungkin melonnya cuma ada di laporan anggaran. Jadi, buahnya nggak bisa dimakan, cuma bisa dibaca!"

CI: "Ah, sudahlah. Kalau benar ada proyek melon Rp 164 juta, mestinya desa ini jadi pusat agrowisata sekarang. Bukan malah jadi bahan tertawaan nasional!"

JH "Betul, Bu. Tapi ya sudahlah, kalau LP.KPK ini memang kreatif bikin cerita, kita kasih saran aja: lain kali, kalau bikin hoaks, tolong jangan pakai buah. Mending langsung aja bikin proyek 'Anggur di Bulan'. Kan lebih meyakinkan!"

PK: "Setuju, Pak. Atau kalau mau lebih realistis, bikin aja 'Proyek Bayangan di Desa'. Karena memang cuma bayangan yang bisa dilihat di proyek ini!"

AO: "Pak, saya punya ide. Kita bikin undangan resmi ke LP.KPK. Suruh mereka datang ke desa. Kasih mereka sekop, dan bilang: 'Cari melonnya sendiri!' Kalau ketemu, baru kita percaya."

JH "Bagus, Kalau mereka benar ketemu melonnya, kita kasih hadiah: sepiring nasi jagung. Tapi kalau nggak ketemu, suruh mereka bikin permintaan maaf resmi sambil tanam melon beneran di sini!"

(Semua tertawa.)

JH (serius): "Tapi begini, bapak-ibu. Kita nggak bisa tinggal diam. Kita harus klarifikasi, karena desa kita nggak punya proyek melon sebesar itu. Ini pencemaran nama baik. Dan pesan terakhir saya: 'Kalau mau bikin hoaks, tolong jangan kebablasan. Karena dari 164 juta itu, yang tumbuh cuma kebodohan, bukan melon.'”

(Semua mengangguk sambil tersenyum puas.)

Rabu, 18 Desember 2024

"Melon Fantasi: Proyek Halusinasi Abad Ini"


Mimpi Siang Bolong LP.KPK Komcab Manggarai Sebagai Pondik Reborn


Mari kita beri tepuk tangan dulu untuk LP.KPK Kabupaten Manggarai, yang berhasil menciptakan hoaks terbesar dalam sejarah pembangunan desa di Indonesia. Dengan kreativitas yang luar biasa, mereka melaporkan proyek "melon fiktif" senilai Rp 164.950.000, yang bahkan tidak pernah tercium baunya di Desa Bulan. 

Hebat, sungguh luar biasa. Kalau ini lomba cerita pendek, mereka pasti menang. Bayangkan, melibatkan Kementerian Desa, program bibit melon yang tidak pernah ada, dan angka ratusan juta yang seolah dilempar dari langit. Namun, di lapangan? Tidak ada lahan, tidak ada bibit, tidak ada melon. Yang ada hanya kebingungan masyarakat. Kami jadi bertanya-tanya, mungkin ini melon jenis baru yang hanya tumbuh di dunia mimpi? Atau bibitnya "dikirim secara astral"? 

Kalau benar, mohon diusulkan ke Museum Rekor Indonesia sebagai proyek "tanpa jejak" pertama di Nusantara. Yang lebih kocak lagi, LP.KPK Kabupaten Manggarai ini katanya kelas nasional. Wah, kami kira bakal ada standar integritas dan profesionalisme yang tinggi. Tapi nyatanya? Laporan tanpa bukti, saksi tanpa persetujuan, dan data yang lebih mirip skrip film fiksi. Mungkin lembaga ini bisa rebranding jadi LP.Lucu-lucuan Pura-pura KPK. 

Mari kita tinjau ulang. Kalau memang program melon ini ada, mana dokumen anggarannya? Mana bukti pembayaran, bukti pengadaan bibit, dan laporan resmi dari Kementerian Desa? Jangan-jangan, dokumennya disimpan bersama melon tak kasatmata itu—hilang begitu saja ke dimensi lain. Kami sungguh terhibur dengan "temuan" ini. Tapi sayangnya, warga Desa Bulan tidak sedang menonton komedi. Mereka justru marah karena nama desa mereka dicemarkan tanpa dasar. 

Lebih baik LP.KPK Manggarai kembali belajar bagaimana menyusun laporan dengan bukti nyata, bukan sekadar mencomot angka dan cerita dari entah siapa. Terakhir, pesan untuk LP.KPK: Kalau mau bikin cerita fiksi, mohon buat alur yang lebih masuk akal. Karena, serius, Rp 164.950.000 untuk melon yang tidak pernah ada? Bahkan anak-anak SD pun tahu, melon butuh tanah untuk tumbuh, bukan sekadar anggaran fantasi. Sekian, salam sinis dari kami. "Melon ada di imajinasi, laporan abal-abal jadi prestasi." 😊 

  "Sebuah Komedi Data dan Persetujuan: Fakta Atau Fiksi?" 


 Wah, ternyata jadi detektif data sekarang semudah bikin laporan! Tapi, mari kita pelan-pelan membaca lagi "laporan investigasi" ini, karena ada banyak plot twist yang lucu. Pertama, kami ingin bertanya kepada pihak yang bersangkutan, data ini berasal dari mana ya? Apa diambil dari dadu yang dilempar, atau mungkin dari mimpi semalam? Soalnya, saudara Pankrasius Salva dan Ansel Ogas, yang katanya jadi saksi andalan dalam cerita ini, kok malah memberikan pernyataan yang bertolak belakang dengan klaim di berita. 

Wah, ini mungkin rekor baru: saksi yang tidak pernah memberikan persetujuan, tapi langsung jadi bintang utama laporan! Kedua, kalau memang anggaran sebesar itu “hilang”, kenapa hanya disebutkan "uang rokok Rp 50.000-100.000"? Apa mungkin anggaran Desa Bulan ternyata punya kemampuan ajaib: 10 juta bisa jadi satu batang rokok? Kalau benar, tolong ajarkan ilmunya. Berguna untuk memecahkan masalah ekonomi global. Ketiga, soal pembangunan fisik rabat beton yang "mangkrak". Ini menarik! Dengan "volume 150 meter" yang katanya menguap entah ke mana, pertanyaannya adalah: siapa yang sempat mengukur panjang ini? Mungkin meteran ajaib dari Hogwarts? 

Karena saksi yang katanya kecewa justru tidak pernah hadir di rapat atau proses pengerjaan. Dan terakhir, LP.KPK Manggarai, coba mari kita diskusikan: bagaimana caranya melakukan audit tanpa data konkret, bukti fisik, atau dokumen asli? Kalau memang ada kejanggalan, bukankah audit yang sah dilakukan dengan metode yang jelas, bukan sekadar mendengar kabar burung?

Kami mendukung transparansi dan pemeriksaan dana desa, tapi tolong jangan jadikan masyarakat Desa Bulan sebagai bahan untuk cerita horor yang tidak lucu ini. Kami sarankan, sebelum melontarkan tuduhan, pastikan datanya bukan hasil copas sembarangan dan disertai dengan persetujuan dari pihak-pihak yang benar-benar terlibat. Seperti kata pepatah modern: "Hoax boleh saja kreatif, tapi jangan terlalu imajinatif." 

Tulisan di atas tanggapan atas berita Yuvensianus Hamat Kepala Desa Bulan Kecamatan Ruteng, Diduga Lakukan Penyelewengan Dana Desa, Inspektorat Manggarai NTT Tutup Mata. - Detikkompasnews.id Editor: Savrin Taji 17//12/24