Senin, 27 Mei 2024

Sejarah Singkat Gendang Mbero Anam dan Mbero Nangka

Sejarah singkat Gendang Mbero Anam dan Mbero Nangka Merupakan wilayah ulayat dalu Lelak dan glarang Leko Gendang Mbero Anam dan Mbero Nangka adalah Adik Kakak bersaudara yang sebelumnya menetap di Kawong Kec. Lelak desa Bangka Tonggur lalu pindah ke Welu desa Lamba kecamatan Lelak Kemudian pindah lagi ke bangka Mbero di desa Bulan kecamatan Ruteng dan sekitar tahun 1932 Bangka Mbero ditinggalkan oleh penghuninya lalu berpindah dan mekar menjadi Gendang Mbero Anam (Kakak Sulung) kemudian menyusul adik Bungsu Mbero Nangka ke tampat Anam Desa Bulan Kec. Ruteng yang sekarang menjadi lokasi dua rumah Gendang tersebut. Bermula dari Kake Buyut bernama Taji Manisa yang datang dari kerajaan Goa Talo tahun 1600-an dengan anak kandungnya yang bernama Semparang. Taji Manisa merupakan Cikal bakal nenek Moyangnya orang Lelak termasuk Mbero Anam dan Mbero Nangka yang merupakan wilayah Hamente Lelak dan menetap di daerah Welu desa Banka Lelak. Dari penuturan sejarah yang diwariskan secara turun temurun orang Lelak di Kecamatan Lelak memiliki hubungan darah yang sangat dekat sebagai adik kakak dengan orang Mbero Anam dan Mbero Nangka. Empo Ampel (Pae Mendaes ) adalah leluhur dari 2 gendang Mbero Anam dan Mbero Nangka yang dalam hubungan perkawinan dengan woe (Anak Wina) di Kawong dan sebagian gendang di wilayah Lelak mereka berpindah menuju Bangka Mbero sekitar tahun 1700an. Dari bukti kuburuan leluhur yang ada di sekitaran Bangka Mbero diperkiraakan mereka menetap di tempat tersebut hanya 3-4 generasi sebelum pindah ke Anam menjadi gendang Mbero Anam dan Mbero Nangka yang disebabkan oleh banyaknya wabah penyakit yang menyerang warganya. Di Bangka Mbero dua oang anak dari Pae Mendaes (Empo Ampel) yang sulung bernama Waek dan bungsu bernama Dor hidup dalam satu gendang namun masing-masing memiliki hubungan anak rona dan anak Wina masing-masing. Sejarah dan garis keturunan Gendang Mbero Anam Sebagai anak pertama dari Empo Paem Mendaes Waek mencari tempat yang agak luas dan rata sekaligus mau menantang musuh-musuh yang ingin menguji ketangkasannya dalam berperang. Waek memilih tempat di sekitaran Anam sebagai wilayah kekuasaan baru sekitar pertengahan tahun 1800-an tentunya tetap berdasarkan pembagian wilayah ulayat dari kerajaan Todo yang dikukuhkan dengan buku KAR (bukti pembagian wilayah ulayat di wilayayah kekuasaan kerajaan Todo) yang dikeluarkan oleh Gelarang Leko. Di Awal tahun 1900-an Gendang Mbero Anam mengalami kebakaran lalu mereka pindah dari wilayah sekitaran Tontong ke tempat berdirinya gendang Mbero Anam sekarang ini. Sekitar tahun 1962 Gendang Anam mengalami kebakaran dan semua perlenkapan gendang seperti Gong, Gendang dan tambur diselamatkan oleh Gabriel Melong sebagai Tua Gendangnya sampai tahun 1980-an lalui diteruskan oleh Romanus Aber sampai tahun 2021 dan sekarang dibawah kepemimpinan Aleksius Aleng sebagai tua gendangnya. Aanak-anak dari empo Waek adalah Karem (selain berada di Anam mereka juga tersebar di Pagal, Ruteng, Pacar, Satar Mese dll) Nggape (selain di Anam mereka menyebar di Lembor, Lelak, Pacar, Ruteng dan wilayah sekitarnya) Kambe tersebar di seluruh wilayah Manggarai Barat, Tengah dan Timur Raeng tersebar di seluruh wilayah Manggarai Barat, Tengah dan Timur Selain empat orang anaknya empo Wak di atas gendang Mbero anam juga dalam hubungan kekerabatannya mereka juga memilik anak rona pakep dan woe yang terdiri dari, Poco Leok, Nade, Nande, Pocang, Langke Rempong, Dese dan Taga serta Kolang dan woe-woe lainnya. Wialayah ulayatnya menyebar mulai dari Wae Wau sampai dengan jembatan Wae Mese dibagian Barat dan Timurnya sementara selatan dibatasi oleh aliran sungai Wae Mese dan utara berbatasan dengan wilayah Leko. Sejarah dan Garis Keturunan Gendang Mbero Nangka Empo Dor sebagai anak bungsu dari empo Pae Mendaes (Ampel) meninggalkan perkampungan Bangka Mbero dengan didahului dengan ritus adat ledong Beo sekitar tahun 1934 menuju wilayah Anam dekat dengan rerumpunan Pohon Nangka. Untuk menegaskan pendirian Gendang Baru sebagai pemekaran dari Mbero maka dinamailah gendang tersebut dengan Nangka lalui berkembang menjadi Mbero Nangka. Empo Dor memilik 2 orang anak yang teridiri dari empo Sape anak ronanya berasal dari Pahar dan Empo Sape memiliki 4 orang Anak Raga Anggal Tungku Ngoro Empo Tingo anak roanya berasal dari Wangkung Wenus (Renda) dan memilik beberapa orang anak Murung Lesit Nagang Selian empat leluhunya keturunan Sape dan 3 leluhur keturunan Tingo orang anak tersebut terdapat juga woe ase kae yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari gendang Mbero Nangka yaitu, Cireng, Taga, Maras, Ndehes, Bola, Balo, Bung, Lio, Biting, Wesa, Cumbi, Rakas, Tungga dll Wilayah kekuasaan ulayat gendang Mbero Nangka berdampingan dengan wilayah ulayat gendang Mbero Anam sehingga smapai saat ini terdapat pencampuran kepemilikan tanah ulayat antara warga gendang Mbero Anam dan Mbero Nangka. Itulah sekilas tentang gendang Mbero Anam dan Mbero Nangka yang sekarang mendiami 70 % wilayah desa Bulan Kecamatan Ruteng dengan jumalah penduduk sekitar 3.000 jiwa dan 700 kk yang hampir 95% penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak sekala rumahan. Blasius Jehono merupakan tua Gendang Mbero Anam sekarang ini yang sebelumnya dijabat oleh Yoseph Gas, Petrus Akal, Lorus yang dipilih secara demokrasi berdasarkan keputusan bersama dalam musyawarah yang dihadiri oleh semua keturunan empo Dor dan woe-woe ase kae yang tinggal bersama dalam gendang Mbero Nangka. Anam, 27/5/2024 Yuvensianus Hamat (Kepala Desa Bulan)